Top Categories

Travel

Travel
travel

Adventure

Life Reflections

Technology

Food

Movie Review

Book Reviews

Relationships

Relationships
ghhfgfgh

Sebuah obrolan menarik dengan mahasiswa MIPA semester 3 tadi malam, seberapa jauh manusia akan tertarik terhadap AI? Berawal dari rutinitas biasa, saling bertukar kabar via video call dengan Yaya, si mahasiswa semester 3 yang sedang berkuliah di Malang. Baru saja video tersambung, dia langsung menangkap gelagat sayang yang lebih lelah dari biasanya. “Mama ngapain hari ini? Kayaknya capek?” Hmm… anak yang jarang menunjukkan perhatiannya, tapi cukup peka. Sekalinya dia action, siapapun bakalan meleleh. “Hmm… biasa, dari pagi meeting, lalu siangnya masih meeting lagi tapi beda tim, lalu sorenya ada mentoring…” saya bercerita sambil mengingat-ingat apa yang terjadi seharian ini. Belum sampai di akhir kalimat, saya sudah menemukan alasan kenapa hari ini rasanya lebih lelah dari biasanya. Hari Senin, masih awal minggu dan sewajarnya mimpi buruk budak corporat - hari Senin adalah nightmare. Sebab semua kecheosan hingga satu minggu kedepan diawali oleh hari Senin. Buktinya: full day meeting. Lalu ada lagi tambahan mentoring, dimana saat ini saya sedang mendampingi satu komunitas dalam program pendampingan untuk melakukan edukasi melalui sosial media. “Mentoring apa?” si gadis dari seberang sana bertanya sambil merapikan roll an rambutnya. Ckckckc… remaja, sudah mau tidur masih saja menggulung rambut. Saya lalu bercerita tentang kegiatan mentoring itu. Topiknya, peserta dan goalsnya. “Sebenernya mentoringnya nggak bikin capek, yang capek itu ngadepin konten-konten yang dibuat dengan AI,” saya mulai mengomel, mumpung ada kesempatan melepaskan keruwetan isi kepala. “Hmm… what do you thing ‘bout it?” Sebuah pertanyaan keluar, membuat mulut yang tadinya mengomel ini seketika terdiam. Ini menarik. Daripada ngomel panjang lebar, lebih baik mendengarkan perspektif mahasiswa science ini tentang kecerdasan buatan. “Hmm… ada yang salah dari pemahaman masyarakat kita belakangan ini tentang AI. Orang-orang berfikir AI itu bisa melakukan segalanya. Seharusnya AI itu untuk membantu, dam baru sedikit orang menggunakannya dengan tepat,” ujar saya perlahan-lahan. “U humm… dan itu bikin kita jadi bodoh,” timpalnya. Astaga, gen Z akhir ini memang ke asbunannya memang sudah mendekati gen Alpha ya. Bukan mereka bicara tanpa berfikir, tapi lebih ke bicara tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya. “Kakak ada ketemu jurnal, bahwa nanti pure intelligent tetap akan menang dibanding AI,” responnya. Ok, saya suka perspektif ini. “Itu yang dinamakan dengan AI fatigue (Keletihan AI), bahwa manusia akan menemukan titik jenuh terhadap AI, dan pada saat itu kita akan kembali mencari hal-hal yang humanis, hal-hal yang sangat manusia,” saya menjelaskan. Di seberang sana, ia mengangguk cepat. Ai Fatigue dan Perasaan Kosong Ada ngga yang sudah merasakan saat sedang scroll sosmed kita akhirnya hanya sekedar scroll-scroll saja, tidak lagi benar-benar membaca, menonton dan menikmati konten yang disajikan. Kita akhirnya merasakan kejenuhan tapi seolah sosial media tidak pernah benar-benar bisa lepas dari rutinitas kita. Akhirnya, kita melakukan kebiasaan itu tapi dengan menyisakan perasaan kosong. Kenapa bisa terjadi? Karena mungkin konten yang kita konsumsi itu mulai seragam. Ingat, bahwa cara kerja sosial media adalah algoritma mengenali kebiasaan kita. Karena AI secara generatif dapat memproduksi teks dan gambar bahkan video dalam hitungan detik, maka ruang digital dibanjiri oleh konten buatan AI. Gawatnya lagi, jika jeli, maka kita dapat menemukan keseragaman pada konten-konten tersebut. Pada saat itulah kita mulai merasakan kejenuhan terhadap konten, karena informasi yang disajikan tidak lagi unik. Jujur saja, saya mulai menyadari hal ini setelah beberapa waktu berkutat dengan Threads. Awalnya menyenangkan karena lebih mudah menemukan konten & networking sesuai interest kita. Tapi lama-kelamaan, saya mulai menyadari ide dan cara penyampaian pesannya mulai terlihat sama. Saya meninggalkan thread dan hanya sesekali kembali untuk mencari sesuatu :) Lantas, apakah kejenuhan ini hanya disebabkan oleh keseragaman konten? Ada beberapa pendekatan psikologi yang bisa membantu kita memahami mengapa sesuatu yang awalnya menarik lama-kelamaan justru terasa melelahkan. 1. Adaptasi Hedonik (Hedonic Adaptation) Dalam psikologi, adaptasi hedonik menjelaskan kecenderungan manusia untuk kembali ke tingkat kepuasan yang relatif stabil setelah mengalami sesuatu yang menyenangkan atau luar biasa. Ketika AI generatif mulai populer, banyak orang dibuat kagum oleh kemampuannya menghasilkan tulisan, gambar, dan video dalam waktu singkat. Kita mengalami wow effect karena teknologi ini menawarkan sesuatu yang sebelumnya terasa sulit dibayangkan. Namun, seiring waktu, sesuatu yang awalnya luar biasa bisa menjadi hal yang biasa. Standar ekspektasi kita meningkat, sementara rasa kagum perlahan memudar. Ketika hasil AI tidak lagi memberikan kejutan, interaksi dengannya maupun konten yang dihasilkannya bisa terasa monoton. 2. Hukum Pengembalian yang Semakin Berkurang (Law of Diminishing Returns) Pada tahap awal penggunaan AI, kita mungkin merasakan peningkatan efisiensi yang signifikan. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam dapat diselesaikan jauh lebih cepat. Namun, penambahan penggunaan AI tidak selalu menghasilkan peningkatan manfaat yang sebanding. Ada titik ketika kita justru harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk menyusun prompt, memeriksa akurasi hasil, memperbaiki kesalahan, dan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang terus berubah. Pada akhirnya, energi yang dikeluarkan untuk mengelola AI bisa terasa tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh. Alih-alih membantu meringankan pekerjaan, AI justru menambah beban kognitif. 3. Krisis Eksistensial dan Kebutuhan akan Otonomi Menurut Self-Determination Theory atau Teori Determinasi Diri, manusia memiliki kebutuhan psikologis dasar, termasuk otonomi—perasaan bahwa kita memiliki kendali atas tindakan dan pilihan sendiri—serta kompetensi, yaitu perasaan mampu melakukan sesuatu. Ketika semakin banyak proses berpikir, menulis, dan mengambil keputusan diserahkan kepada AI, sebagian orang mungkin mulai mempertanyakan peran dan kemampuan dirinya sendiri. Apakah kita masih benar-benar berkarya, atau sekadar memilih dan menyunting hasil yang dihasilkan mesin? Dalam kondisi tertentu, kejenuhan terhadap AI bisa berkaitan dengan kebutuhan untuk mendapatkan kembali kendali atas proses kreatif. Kita mungkin mulai merindukan proses menulis dengan pikiran sendiri, mencari ide melalui pengalaman, atau menyelesaikan pekerjaan tanpa bantuan teknologi. Bukan berarti menggunakan AI selalu mengurangi kreativitas. Namun, keinginan untuk kembali melakukan sesuatu secara manual bisa menjadi cara untuk merasakan kembali kepuasan, keterlibatan, dan makna dalam proses berkarya. 4. Titik Balik Kecerdasan Buatan Era kecerdasan buatan ini terasa sama saat pembahasan tentang media baru sekitar satu dekade yang lalu menjadi perdebatan penting di ruang-ruang diskusi. Meski teori media baru menegaskan bahwa perkembangan teknologi media bersifat linear dan evolusioner dan bukan siklus yang berputar ke belakang. Namun, bukan berarti media konvensional akan mati total. Yang terjadi bukanlah penggantian, melainkan konvergensi dan komplementasi. Media baru (media berbasis teknologi) seharusnya menyerap fungsi media lama dan hanya mengubah cara audiens dalam mengonsumsinya. Dengan catatan, ada prinsip yang tetap harus dipertahankan, yaitu faktualitas informasinya. Namun, realita di lapangan menunjukkan, dunia media terutama di Indonesia tidak mampu mengatasi tantangan media baru ini. Industri media lebih terlihat seperti bersaing dengan teknologi. Maka satu persatu kerajaan media yang pernah berjaya di masa lalu pun tumbang. Dari sisi pembaca saya bisa mengatakan, karena tidak ada lagi yang menarik yang disajikan oleh media tersebut yang membuat pembaca tinggal lebih lama. Siklus itulah yang diprediksi juga akan dialami manusia di era kecerdasan buatan ini dimana teknologi sering kali harus melewati fase antusiasme yang tinggi sebelum akhirnya menjadi bagian biasa dari kehidupan sehari-hari. AI pun bisa mengalami proses serupa. Setelah fase hype, kita mungkin mulai menempatkannya secara lebih realistis: bukan sebagai teknologi ajaib yang mampu menggantikan segala hal, melainkan sebagai alat yang memiliki manfaat sekaligus keterbatasan. Pada titik ini, perhatian kita bisa kembali bergeser. Kita mungkin semakin menghargai hubungan antarmanusia, kreativitas yang tumbuh dari pengalaman nyata, serta interaksi dengan dunia fisik yang tidak selalu bisa direplikasi oleh teknologi. Mungkin, persoalannya bukan semata-mata karena kita terlalu sering menggunakan AI. Bisa jadi, kita juga mulai merindukan sesuatu yang terasa lebih manusiawi di tengah dunia digital yang semakin mudah diproduksi secara massal. Sebagai penutup obrolan malam yang ternyata menjadi lumayan berat itu, saya cuma berpesan pada mahasiswi di seberang layar yang sudahi menguap 3 kali. Agar kita bisa menempatkan AI pada tempat dimana ia sehafrusnya berada: untuk membantu pekerjaan menjadi lebih efisien, bukan untuk menggantikan pure intelligence sebagai manusia—kemampuan berpikir kritis, bernalar, berimajinasi, serta mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman kita sendiri. Sebab, ketika titik jenuh itu tiba dan AI tak lagi menawarkan kejutan seperti hari ini, kita tidak boleh kehilangan kemampuan untuk berpikir dan berkarya secara mandiri. Teknologi boleh terus berkembang, tetapi kemampuan manusia untuk memahami, mempertanyakan, dan menciptakan sesuatu dengan pemikirannya sendiri harus tetap kita rawat. Dengan begitu, kita tidak hanya siap menghadapi masa depan bersama AI, tetapi juga tetap memiliki bekal ketika kita harus melangkah tanpanya.
}

Instagram

Journey By Nila | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi