Sementara dia, selalu merasa tidak nyaman dan akhirnya tidak bisa tidur.
"Lu baru duduk aja udah pules, enak banget," hahaha... seringkali dia ngomel.
Saya kadang hanya balas nyengir, sesekali melempar jawaban jujur "suruh siapa lingkar pinggang besar wkkwkwk..."
Tentang AJ, kita sudah berada dalam satu perahu yang sama sejak 2009. Sering bersama mengerjakan proyek apapun, temasuk bila ada tugas keluar kota seperti kali ini. Okelah dia mengeluh tidak bisa tidur saat naik minibus dengan alasan sempit dan perjalanan dari Semarang ke Jepara katanya bolong-bolong jadi nggak bisa tidur (iyakah? saya g tau soalnya pulas wkwk).
Pernah juga saat kita ada tugas ke Jogja, naik kereta malam dari Gambir, dia juga protes saya tidur pulas dia g bisa tidur dengan alasan tempat duduk g nyaman dan di belakang dia ada rombongan ibu-ibu berisik. Hmm... kan kereta bisnis ya, g ada alasan kalau g nyaman?
Pernah juga kita ke Medan, pakainya Cityl*nk lhoo... dan dia bilang sempit dan g bisa tidur, karena turbulen. Iya sih, sesaat sebelum kita berangkat Jakarta di landa badai, dan di atas turbulens, tapi yaa.. saya juga g ngerti kenapa hak-hal seperti itu tidak mengganggu saya untuk tidur. Jadinya g heran topik perjalanan ini seringkali jadi candaan yang sepertinya akan selalu jadi bahan ceng ceng an di kantor.
Kembali ke Hotel Jepara Indah, yang akan jadi tempat bermalam kami adalah salah satu hotel besar yang sudah dibangun sejak lama. Lobbynya besar, dengan beberapa lukisan menjadi hiasan di dindingnya yang tinggi dan lebar.
Setelah mengurusi check in, bell boy yang bertugas - seorang pria yang masih muda mengantar. Semula ia menawarkan membawakan ransel saya yang moaish tersampir di pundak - mungkin ia menyadari tamunya datang dengan wajah yang maish terlihat mengantuk. Saya menolak halus, bawaan ini tidak begitu berat. Masih sanggup kalau cuma naik lift ke lantai 3.
Ia mengantar saya ke lantai 3 dan adit ke lantai 4. Saya tidak lagi sempat mepertanyakan kenapa kami berbeda lantai, sebab satu-satu nya yang kami request adalah no smooking room.
Tujuan kami ke Jepara kali itu adalah untuk menghadiri peringatan Hari Kartini, yang diselenggarakan oleh salah satu mitra. Ada banyak rangkian kegiatan yang di selenggarakan kala itu, mulai dari malam pentas seni, talkshow dan workshop bersama Menteri PPA dan Dian Sastro hingga karnaval budaya. semunya di selenggarakan di Alun-Alun Jepara - sebuah lapangan yang berada di jantung kota Jepara.
Dari hotel tempat kami menginap, hanya perlu berjalan kaki sekitar 10 menit.
Lepas ashar, saya sudah tidak betah di kamar. Memaksa AJ city tour - ralat, walking tour di kota kecil itu bukan ide yang bagus. Ia pasti akan mengomel sepanjang jalan, sudah terbayang apa yang akan dia keluhkan "ngapain sih muter-muter, sama aja kan kayak di depok?"
Ck.. kalau sednag begini tuh keliatan sanat jelas perbedaan cara kerja otak cewek dan cowok. Versi cewek, kita udah jauh-jauh ke tempat lain, ya sayang kan kalau g liat liat?
Versi cowok? .... g tau deh. Sok atuh para lelaki di jawab, kenapa sering banget rewel tanpa alasan
