Bagi saya, traveling itu bukan tentang kemana kita pergi, tapi bagaimana kita menikmati perjalanan tersebut. Dalam setiap perjalanan, pasti ada hal-hal yang terjadi di luar rencana atau malah jauh sangat dari ekspektasi kita. Hanya ada dua pilihan dalam menghadapi situasi ini: menerima dengan lapang dada lalu mencari jalan keluar terbaik, atau misuh-misuh sepanjang hari dan ngomel sana sini. Alhamdulillah, sepanjang sejarah traveling saya yang tidak seberapa ini, saya lebih banyak menikmati ketimbang mengomeli. Apalagi, saya termasuk yang mengusahakan traveling di tengah-tengah tugas negara yang sebarek-abrek. Waktu yang singkat harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
So, menyambung cerita Tiba-Tiba Thailand sebelumnya, kita lanjutkan lagi bagaimana petualangan empat orang ini selama di Thailand. Jadi, keempat orang ini memiliki misinya masing-masing:
Saya : meeting dengan klien + kasih semangat buat trainee Chuang asal Indonesia + nonton Chuang Live
Sabila : handling media + back up wawancara dengan para trainee + kasih semangat buat trainee Chuang asal Indonesia + nonton Chuang Live
Arman (wartawan dari media entertainment yang ditugaskan) : liputan + menulis berita + konten + lari pagi
Dini : Cari kafe tenang untuk bekerja di depan laptop + menemani saya shopping
Sawadikap Bangkok
Kami mendarat di Don Mueng, Bangkok hari Sabtu Malam sekitar pukul 20.00. Dari Bandara, kita langsung menuju hotel di kawasan Sathon. Kenapa pilih di Sathon? supaya tidak terlalu jauh ke lokasi event Chuang di Iconsiam.
Setelah menyelesaikan proses check ini, kami segera menuju satu kawasan kaki lima di pusat kota Bangkok untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Meski waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam, namun suasana masih ramai. Kami memilih satu meja yang kebetulan kosong, di dekat tenda penjual makanan dengan logo halal. Oh ya, sebenarnya tidak sulit mencari makanan halal di sini, mengingat Thailand bagian selatan justru beragama Islam.
Saya memilih Pad Thai, mirip kwe tiauw tapi rasanya ada gurih dan asam khas Thailand. Tak ketinggalan dessert favorit saya : mango sticky rice. Sumpah enak banget. Cukup lama kami makan sambil ngobrol di sini, di tengah orang-orang yang masih berlalu lalang dan tentu saja dengan cuaca Bangkok yang hangat itu.
Sekitar pukul 11.00, Dini mengajak kembali ke hotel. Hmm... saya lupa bilang, kadang Dini memang lebih mirip emak yang harus mendisiplinkan anak-anaknya sih hahhaha...
Thailand mungkin menjadi negara di Asia Tenggara yang banyak menyita perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Tak dapat dipungkiri, Negeri Gajah Putih ini menjadi negara di ASEAN dengan kunjungan wisatawan terbanyak dari waktu ke waktu. Pilihan wisata eksotis, kemudahan akses transportasi, wisata belanja dan kuliner yang menggoda serta yang paling penting, akomodasi yang bisa dibilang lebih terjangkau dibanding negara Asia lainnya.
Sejujurnya, Thailand tidak masuk dalam whislist saya. Mungkin karena imagenya sebagai kota yang crowded dan panas, yang kata orang-orang mirip dengan Jakarta. Jadi, saat dulu Dini - bestie si tukang nebar racun travelling - kerap ngajakin ke Thailand, saya ogah. Saya tidak tertarik, hingga Maret 2024, saya terpaksa harus ke Thailand karena satu tugas, dan ini mengubah segalanya.
Semua berawal dari Program Idol Chuang 2024, salah satu project yang saya handle untuk urusan publikasinya, dimana ada dua orang trainee asal Indonesia ikut berjuang dalam kompetisi idol ini. Salah satunya, Caith, member JKT 48 lolos ke babak eliminasi. Demi memberikan dukungan untuk Caith dan juga untuk promosi program juga tentunya, jadilah saya harus berangkat ke Bangkok, bersama 1 rekan dan 1 wartawan entertaintment. Dan tentu saja, keberangkatan ini dipersiapkan secara dadakan.
Untuk yang belum tahu, Chuang adalah semacam kompetisi/ ajang pencarian bakat yang nantinya peserta terpilih/ yang lolos hingga babak akhir akan debut sebagai girls group/ boygroup. Yang menjadikan ajang ini sangat kompetitif adalah, asal pesertanya dari banyak negara di Asia, dan trainee - sebutan untuk para peserta tidak hanya dituntut bisa menyanyi, tapi juga menari. Selain penilaian dari juri, voting dari audiens juga akan menentukan trainee tersebut lolos ke babak akhir atau tidak.
Nah, jadi paham kan kenapa pentingnya publikasi media untuk mendukung peserta asal Indonesia ini?
Hanya saja, karena Chuang ini rumahnya memang di Bangkok - Thailand, jadi untuk mendapatkan akses peliputan media tidak segampang bikin pressconference di Jakarta. Ada banyak seleksi yang diberlakukan penyelenggara, termasuk pitching atai seleksi media yang akan mendapatkan akses. Jadi, meskipun wacana peliputan Chuang di Bangkok sudah mengemuka dari 2 minggu sebelumnya, tapi keputusan konfirmasi liputan dan media yang terpilih baru diperoleh H-3.
Tiba-tiba Dini Ikut
Event yang harus dihadiri di Bangkok itu berlangsung hari Minggu, 3 Maret 2024. dengan perhitungan waktu yang paling mepet, kita sudah harus sampai di Bangkok Sabtu malam, supaya ada waktu yang cukup untuk istirahat sebelum bertugas di hari Minggu.
Kebetulan di minggu teralkhir Fabruari tersebut, saya banyak meeting di luar kantor, untuk project lain. Karena itu, saya titip pesan ke Sabil, partner kerja untuk Chuang ini. Saat sudah ada konfirmasi dari klien, tolong segera di urus saja tiket dan akomodasinya.
Singkat kata, hari Rabu (28/2) siang, Sabil mengabari lewat WA bahwa positif berangkat dengan media yang juga sudah dipilih klien tentunya. Saya merespon singkat "Noted. Segala keperluan langsung di proses ya, bisa langsung berkoordinasi dengan finance," saya menjawab. Artinya, untuk pilihan penerbangan dan hotel, tidak perlu lagi approval saya. Saya hanya minta kepastian rundown acara dan agenda-agenda bersama media. Setelahnya, saya melanjutkan aktivitas hari itu.
Saya pikir, arahan singkat lewat WA tersebut cukup untuk Sabil melakukan pekerjaannya. Saya lupa memberikan satu hal ke Sabil: no passport.
Siang ke sore, jelas saya slow respon di WA, karena ada beberapa meeting yang membutuhkan waktu intens dengan klien. Alhasil, saya tidak menyadari Sabil uang mengirim pesan menanyakan no passport.
Sore sekitar pukul 16.00, saat aktivitas hari itu sudah mulai longgar, barulah saya mengecek lagi satu-persatu WA yang belum terbaca. Diantara sekian banyak, ada 2 notif yang mencuri perhatian:
Pertama, chat dari Sabila tentu saja. Ada satu teks menanyakan no pasport, lalu 2 panggilan tak terjawab. Jeda 20 menitan, dia melanjutkan dengan kabar "tiket dan hotel DONE ya mba, berikut ...[attachment tiket],".
Damn!!! baru sadar Sabil belum punya no Paspor saya. Sedetik kemudian muncul pertanyaan, bagaimana bisa dia process tiket tanpa no paspor?
Saya jawab Sabila hanya dengan "Ok, Trims," , lalu lanjut ke chat berikutnya, dari Dini.
"Bun, lu mau ke Bangkok? gw ikuuutt yaaa..." - kalimat yang singkat, padat dan menjawab pertanyaan di atas. Tanpa perlu bertanya, saya sudah dapat menyimpulkan: Karena saya slow respon, Sabila menghubungi Dini minta no paspor saya, sehingga Dini mengetahui kita akan ke Bangkok dan akhirnya..begitulah, ngekor wkwkkwkw...
Nah, di sini saya kasih two tumbs up buat Sabil yang punya problem solving mumpuni - bertanya ke satu-satunya orang yang suka ngayap bareng saya, blusukan ke negara-negara tetangga. Siapa lagi kalau bukan Dini. Sebagai hasilnya, bukan hanya no paspor yang di dapat, tapi member mendadak Thailand pun bertambah satu wkwkwk..
Singkat cerita, Dini yang memang khodammnya 'pembuat itienerary open trip' malah akhirnya yang antusias menyusun ini itu. Padahal ini bukan kali pertama dia ke Thailand - tapi tetap saja dia yang lebih antusias merencanakan perjalanan. bersyukur sebenarnya, mengingat di minggu tersebut saya pun masih padat dengan agenda lain, lalu kehadiran bestie yang dengan kesukarelaannya membantu Sabil ini itu, perjalanan setengah tugas setengah travelling with bestie ini berjalan lancar.
Oh ya, sebelumnya saya sudah jelaskan ke Dini, kalau agenda di Bangkok bakalan padat dan mungkin tidak selonggar saat kita beneran travelling. "Aman, lu kerja aja, gw tinggal blusukan sendiri atau cari kafe yang enak buat buka laptop. Gw cuma perlu nyamain flight dan hotelnya aja, paling nggak kita dinner bareng di street food sama gw temenin lu shopping di Cha Tu Cak," ujarnya santai. Ckckck... begini amat punya teman nggak bisa liat travelokanya nganggur.
Ubur-ubur ikan lele, tugas di Kendari extendnya di Pare-Pare...
Yang sering tugas ke luar kota pasti familiar dengan istilah 'extend' alias nambah 1-2 hari di luar masa tugas. Biasanya ini dibolehkan bila masa tugas selesai di hari Jum'at, kita bisa extend buat liburan pas weekendnya. Eh tapi ini nggak mutlak ya, tergantung kebijakan kantornya masing-masing.
Biasanya, extend itu cuma pindah hotel, atau paling nggak pindah spot wisata doang. Tapi saya, pernah dapat kesempatan extend beda propinsi hahaha.... extend terniat sih itu :p
Jadi ini terjadi karena ditinggal sendirian di Kendari. Akhirnya malah ngayap lintas propinsi. Ini seandainya mama tau ceritanya, pasti belio akan bilang "Nah kaann...dibilangin, anak saya itu jangan dibiarin lepas dari pengawasan :D"
Di tengah-tengah tugas pengumpulan data di Kendari, pada Maret 2018 yang lalu itu, Mba Tina, rekan satu tim yang mendampingi ke Kendari mendapat berita duka. Orang tuanya meninggal. Tidak ada pilihan lain, mba Tina harus kembali lebih awal, dan saya tetap di Kendari menyelesaikan tugas yang masih harus dirampungkan dalam 1-2 hari lagi. Beruntung, ada Wayan, teman media di Kendari yang akhirnya menjadi teman ngebolang di Kota Lulo tersebut.
Sampai akhirnya tugas rampung, Wayan mengantar saya ke bandara bersama 2 dus berkas yang harus saya bawa ke Jakarta. Berangkat bertiga, kali ini saya pulang sambil mengurus logistik sendirian. Beruntung ada Wayan yang membantu saya hingga proses bagasi.
---
Dari Kendari, saya harus kembali lagi ke Makassar, karena harus lapor lagi ke mitra yang ada di Makassar, sekaligus mengurus sejumlah dokumen yang harus di tanda tangan. Setelahnya, baru bisa kembali ke Jakarta.
Tapi sebelumnya, saya harus singggah dulu di Maros, kota Kabupaten yang terletak di bagian barat Sulawesi Selatan. Saat berada di Kendari, Kak Najmi, rekan media yang di Makassar mengabari ada temuan balita gizi buruk dan lagi-lagi karena kesalahan asupan makanan. Bayi usia 12 bulan tersebut kemudian di bawa ke RS Maros.
Dalam situasi seperti ini, tentu saja keputusan harus diambil segera. Jadilah kami segera mengatur agenda kerja. Jarak dari bandara Sultan Hasanudin ke Maros 10 kilo saja, jadi sesampai saya di bandara, Kak Najmi juga sudah menanti dan kita segera bergerak menuju Maros.
Sesampai di RS Maros, sudah ada beberapa media lagi menanti, ada TV lokal dan juga kontributor TVRI. Targetnya adalah ibu dari balita yang gizi buruk dan juga dokter. Kami berusaha menembus narasumber, semula lewat jalur resmi, menghubungi humas. Tapi kala itu, humas-humas institusi masih terlalu sensi dengan kerja-kerja media. Jelas mereka tidak membiarkan media masuk.
Bukan wartawan namanya kalau kehabisan akal. Dengan sedikit trik, akhirnya kami bisa masuk ke ruang rawat dan bertemu keluarga bayi. Secepat kilat rekan media mengambil gambar, dan kami berbagi peran. Ada yang jaga di depan pintu, ada yang ngobrol dengan keluarg, ada yang ngambil footage dan ada juga yang mengorek informasi dari dokter jaga. Alhamdulillah.. all is well, semua tugas berjalan smooth.
![]() |
| Keliatan gemuk ya, tapi bayi ini gizi buruk. Gemuk belum tentu sehat |
![]() |
| Kak Najmi berhasil wawancara dokter :) |
Mungkin ada yang bertanya, kenapa sih RS tidak mengizinkan kasus-kasus gizi buruk dan stunting ini diliput media?
Jawabannya sederhana, gizi buruk dan stunting sudah menjadi stigma, bahwa daerah tersebut miskin dan parahnya lagi, kasus gizi buruk artinya aparat terutama dinas kesehatan tidak becus mengurus daerahnya. Alih-alih memperbaiki, keseringan mereka malah menutupi. Gizi buruk adalah aib. Kepala dinas bisa saja dipanggil gubernur, ditegur dan parahnya mutasi sebagai hukuman. Padahal semestinya, temuan gizi buruk ataupun stunting seharusnya menjadi laporan yang ditindaklanjuti dengan menyegerakan intervensi makanan bergizi bagi masyarakat. Jadi paham kan sekarang?
![]() |
| Sempat mampir ke kantor AJI di Kab maros, ngubek-ngubek kliping koran kasus gizi buruk di Makassar |
Merayakan keberhasilan menembus brikade rumah sakit, Kak Najmi dan teman-teman media mengajak saya ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul). Perjalanan sekitar 1 jam dengan pemandangan yang indah. Begitu mulai memasukin kawasan TN Babul, saya menurunkan kaca jendela, menikmati hembusan angin dingin dan sedikit berembun. Di hadapan kami, kabut mulai turun.
![]() |
| kerja beres, gasss kita eksplor Maros. Ngeeengggg.... |
Sebagai kawasan konservasi, TN Babul memegang peranan penting dalam keseimbangan ekosistem. Kawasan ini juga menjadi surga bagi pencinta kupu-kupu, karena TN Babul sekaligus menjadi sanctuary atau konservsi ratusan spesies kupu-kupu. Tak heran, TN Babul juga di kenal sebagai Kingdom of Butterfly.
Jika dilihat dari sejarahnya, kawasan ini bermula dari Alfred Russel Wallace, ahli antropologi Inggris dan juga penemu teori seleksi alam, yang melalukan eksplorasi di Bantimurung pada periode Juli - Oktober 1857. Ia mempublikasikan hasil penelitiannya The Malay Archipelago. Setelah itu, banyak peneliti yang tertarik mengeksplorasi Bantimurung.
![]() |
| Butterfly |
![]() |
| Nangkring di ketinggian 20 meter |
Puas mengeksplor Maros, saya kembali ke Makassar, masih ada yang perlu di urus bersama LSM mitra. Setidaknya, hasil survey dan temuan di Kendari harus dibahas terlebih dahulu, review data awal, temuan-temuan menarik dan lain sebagainya. Saya menghubungi kantor LSM dan membuat janji untuk rapat koordinasi keesokan pagi. Sementara malam ini, saya ingin istirahat. Baru kerasa lelahnya.
Makassar di guyur hujan begitu saya memasuki kawasan kota. Oh ya, saya baru mencari hotel dalam perjalanan dari Maros, dan memilih Pod House, salah satu hotel kapsul di sekitar pantai Losari Makassar. Ini pertama kalinya saya menginap di hotel jenis ini. Berhubung saya mendadak jadi 'solo trip' , jadinya lebih baik pilih hotel satuan seperti ini. Rasanya, jika booking hotel reguler, sendirian di kamar bakalan terasa banget sepinya :(
---
Entah karena terlalu lelah, atau memang Pod House yang memang senyaman itu, saya bangun terlambat keesokan paginya. Jam 8 baru bangun euy. Untungnya lagi dapat jatah, jadi tdiak terlalu merasa bersalah meski waktu subuh terlewatkan hahahha...
Tapi serius, ini hotel nyaman banget, sayang nggak ada liftnya aja :p
Saya segera beberes dan pesan ojol menuju kantor LSM untuk menuntaskan tugas. Tak perlu waktu lama, urusan saya selesai dalam waktu 2-3 jam.
Seharusnya, masih ada kesempatan untuk saya check out tiket kembali ke Jakarta dengan penerbangan sore . Tapi, yang akhirnya terjadi adalah saya malah booking travel dengan tujuan Pare-Pare, sebuah kota yang berjarak 3 jam perjalanan dari Makassar. Lagi-lagi... keputusan mendadak disaat injury time :p
Bagi sebagian orang, mungkin terdengar aneh. Hah..ngapain ke Pare Pare?
Semula, saya ingin mengunjungi Tana Toraja, daerah yang sudah sejak lama ada di whistlist. Hanya saja, saat ngobrol-ngobrol degan teman di LSM mitra, mereka melarang saya ke Toraja bila sendirian. Lagipula, jarak Makassar - Toraja sekitar 12 jam, bukan pilihan yang bagus bila saya hanya punya waktu 2 hari.
Untung tidak dapat ditolak, di saat sedang berjibaku dengan rencana, tiba-tiba seorang kawan yang memang asli Makassar menghubungi. Dia melihat postingan sosmed saya beberapa hari yang lalu saat sedang makan konro di Makassar.
Kami lalu berbincang di telepon. Pastinya, dia awali dengan ngomel, kenapa saya ke Makassar tidak bilang-bilang. Dengan sedikit menyesal saya jelaskan karena perjalanan kali ini adalah tugas dan agendanya tidak bisa dipastikan dari jauh-jauh hari. Semua tergantung sikon. Sejujurnya, saya juga lupa punya kenalan di Makassar.
"Coba kamu dari awal bilang, saya tunggu di Makassar. Baru aja saya balik ke Pare Pare kemarin sore," ujarnya ngedumel.
"Oh kamu sekarang di Pare Pare? di mana itu?" nah.... saya seperti menemukan arah :p
Singkat kata, sore itu juga dia mencarikan saya travel agent menuju Pare Pare. Sementara dokumen-dokumen yang tadinya harus saya bawa ke Jakarta, dengan dibantu Udin dari LSM, akhirnya saya paketkan pulang. Dokumennya saja pulang duluan, pemiliknya belakangan :p
Sejak bertolak dari Makassar sekitar pukul 15.00, hujan tidak berhenti. Saya yang tadinya ingin menikmati pemandangan akhirnya tertidur sepanjang perjalanan. Di luar gelap, dan tetesan air di jendala mobil menghalangi pandangan. Jadi, tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang perjalanan sore itu.
Saya benar-benar baru bangun begitu mobil travel yang saya tumpangi berhenti di alun-alun kota Pare Pare. Lebih tepatnya di bangunkan oleh driver. Dan saya penumpang terkahir ternyata.
"Sudah ada yang jemputkah? sudah gelap ini," tanya driver paruh baya dengan logat Bugis yang khas.
Saya melihat sekeliling, antara setengah nyawa belum nyambung karena baru bangun tidur, dan menyesuaikan dengan suasana baru yang sangat tidak familiar. Di tengah proses loading itulah ada yang melambai-lambaikan tangan di depan saya. Nah, itu dia, Calu teman yang membuat saya akhirnya menginjak Pare Pare.
"Sudah daeng, teman saya jemput," jawab saya lega. Driver baik hati itu membantu membawakan ransel saya sampai memasukkannya ke dalam bagasi mobil Calu yang oarkir tidak jauh dari sana. Ah.. baik sekali. Senang rasanya disaat-saat seperti ini, di negeri orang, tapi bisa bertemu dengan orang-orang baik.
Segera setelah saya masuk, tanpa babibu Calu segera tancap gas. Tak lama ia berhenti di sebuah rumah dipinggir jalan. Saya mulai heran.
"Ini rumah kamu?" saya bertanya ragu.
"Makan dulu, kamu pasti belum makan," ujarnya santai. Saya hanya terkekeh. Kenapa punay teman selalu tau kalau saya belum makan? wkwkwkw
"Nasi goreng di sini enak, kamu pasti suka," ujarnya.
Saya lupa nama warungnya, tapi sekilas tidak terlihat seperti warung makan karena bentuknya yang seperti rumah lama. Begitu masuk ke dalam, juga tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pengunjung yang sepertinya keluarga sedang makan malam. Saya dan Calu memilih duduk di pojok dekat jendela kayu, sambil menikmati semilir angin malam. Sambil menunggu sepiring nasi goreng merah di buatkan, barulah dia menginterogasi saya.
Saya lagi-lagi menjelaskan dengan singkat perjalanan Makassar - Kendari - Makassar tersebut, dan lagi-lagi alasan kenapa tidak memberi kabar.
"Tadinya sudah mau ke Toraja, eh kamu nongol, nggak jadi deh ke Toraja," ujar saya iseng.
"Yaa suruh siapa nggak ngabarin, coba kalau ngabarin kan bisa ditungguin," ujarnya membalas.
"Eh tapi sampai sini juga kamu sudah setengah perjalanan ke Toraja kok," ujarnya lagi. Menghibur.
Nah..barulah disini pikiran saya mulai terbuka, mengenai posisi Pare Pare - Toraja. Pare Pare ternyata bukan sekedar kota, tapi ini adalah titik yang menghubungkan sejumlah kota penting lainnya di Sulawesi Selatan, termasuk Tana Toraja. Artinya, bila ingin ke Toraja, pasti melewati Pare Pare.
Entah nasi goreng yang memang lezat, atau secuplik pengetahuan baru tentang Pare Pare sebagai kota penghubung menuju Toraja, yang pasti mata saya mendadak melek. Tidak ada lagi kantuk dan jetlag uang tersisa. Semalaman itu, di warung nasik goreng pinggir jalan, saya asyik mendengarkan Calu bercerita tentang kota kelahirannya, dan juga kota kelahiran B.J Habibie.
Pare Pare berada di kawasan Selat Makassar, yang menjadikannya kota penting dalam lalu lintas transportasi dan perdagangan laut dari Jawa, Makassar, Kalimantan, Kepulauan Maluku dan bagian utara dari Nusantara. Menariknya, selain kota yang tumbuh di garis pantai, wilayahnya sendiri berbukit-bukit. Kontur ini jelas menghasilkan pemandangan yang indah, sekaligus magis. Bayangkan, kita berada di atas bukit, dan dikejauhan terlihat laut lepas dengan jelasnya. Belum lagi atap rumah-rumah diselingi hijau dari pohon dan hutan kota yang masih banyak. Rasnaya sulit menemukan pembanding kota kecil nan cantik ini.
Semakin malam, warung nasi goreng sudah menunjukkan tanda-tanda hendak tutup. Kami pun segera beranjak. Sebelum mengantar saya ke penginapan, Calu membawa saya berkeliling kota menyusuri garis pantai. Saat itulah saya melihat bayangan besar di selingi lampu yang bekelap kelip, dan disertai suara terompet besar. Kaget, baru kali itu mengalami.
"Ohh..lagi ada kapal pesiar sandar," jelas Calu enteng.
Hah?? kapal pesiar? sumpah ini hal yang langka bagi anak yang sehari-harinya hanya ketemu angkot dan metromini ini.
"Mau lihat? bisa nih kayaknya, aku ada teman di dalam," ujarnya santai, lalu berbelok masuk ke parkiran dermaga.
Saya sungguh tidak tahu lagi harus bilang apa. Rasanya ingin loncat-loncat saking senangnya. Cuma untungnya bisa jaga image, tetap tenang dan cool biar nggak keliatan norak. Padahal aslinya sudah jumpalitan.
Saya menunggu Calu bicara dengan temannya di loket administrasi dermaga. Sesaat kemudian dia membawa satu nametage. Hahaha.... beginilah kalau kita jalan dengan akamsi (anak kampung sini), kenalannya banyak. Mau apa aja bisa dibicarakan hahahaha...
Singkat cerita, saya berhasil masuk ke dermaga, sedekat itu dengan kapan Europa 2 yang sedang sandar. Kabarnya, kapal megah itu bertolak dari Belanda, mengangkut ratusan pasangan oma - opa yang sedang menghabiskan tabungan hari tuanya :)
Puas wara wiri di dermaga, saya akhirnya ke penginapan. Entah jam berapa, saya tidak ingat. Sepertinya sudah sangat larut. Calu bilang, besok dia mau ajak saya lihat sesuatu yang menarik. Saya iya-iya saja.
Keesokan paginya, Calu sudah menyeret saya keluar hotel. Nyari sarapan katanya. Dengan mata masih belekan, saya melirik jam, masih setengah 8. Oh shitt..ini anak ternyata mowning person :(
Apesnya, tidak saya tidak punya cara untuk mengelak.
Lagi-lagi, kita berhenti di warung pinggir jalan. Tapi kali ini, saya bisa melihat pantai, lautan dan langit biru. Lagi-lagi saya tidak ingat nama warungnya, tapi yang pasti enaknya juara. Karena termasuk salah satu warung legend di sana.
Di sini pula saya berkenalan dengan buras, sejenis lontong pipih yang dibungkus daun. Tapi rasanya lebih gurih dan lontong yang biasa saya makan. Hmm... sejak saat itu, jika ke warung coto di Jakarta, saya selalu mencari buras.
Selesai menikmati sarapan, calu mengarahkan mobil menanjak perbukitan, menyusuri jalan di lereng bukit. Lagi-lagi saya berdecak kagum, sungguh indah. Tapi, yang lebih menarik adalah, diantara lereng dan perbukitan tersbeut, terlihat sejumlah tiang putih berjajar dengan baling-baling yang berputar. Ada kincir angin!!. wohaaa.... belakangan, hasil search di Google, kincir angin tersebut adalah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap.
PLTB Sidrap ini ternyata saat itu sedang d tahap uji coba. Dalam rilis Kementerian ESDM yang saya temukan kemudian, PLTB ini secara resmi mulai beroperasi pada 5 April 2018. Tak hanya sekadar infrastruktur energi, tapi ini adalah simbol kemajuan energi terbarukan di negeri ini. Kabarnya, PLTB komersil ini dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap rasio elektrifikasi di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.
PLTB Sidrap memiliki kapasitas 75 MW dengan 30 turbin, masing-masing berkapasitas 2,5 MW. Turbin angin dipasang pada menara baja setinggi 80 meter dengan panjang bilah turbin 57 meter. PLTB Sidrap mampu melayani lebih dari 70.000 pelanggan listrik dengan daya 900 VA.
Ada satu tempat lagi yang saya singgahi sebelum kembali ke Makassar, pasar senggol. Kawasan ini terkenal dengan thrifting barang impor. Warga setempat menyebutkanya pasar pakaian cakar (cap karung).
Saya tidak ada niat berbelanja, masuk ke lokasi pasar hanya untuk melihat-lihat. Tapi apalah daya, meskipun tidak ada niat, tapi bila mata melihat, maka yang terjadi terjadilah. Alhasil, saya pulang membawa 3 pasang sepatu wkwwkwk...
Jelang sore, Calu kembali mengantar saya ke loket travel menuju Makassar. Tapi kali ini, tujuannya langsung ke Bandara Sultan Hasanuddin, masih ada pesawat malam untuk saya kembali ke Jakarta.
Saya pamit. Setelah menjabat tangannya, saya bilang dalam waktu dekat saya akan kembali ke sini, Toraja masih memanggil.
Dia hanya tertawa. "Oke, ditunggu" ujarnya.
Maret, 2018
Saya terpaksa perjelas lokasi Bali ada di Indonesia karena ternyata banyak orang luar (baca: turis asing) yang masih mengira Bali adalah Bali, bukan Indonesia. Masih mending bule yang mikir begitu ya. Pernah lagi iseng ngobrol sama rombongan anak SD di Monas tentang liburan mereka. Saat mereka bilang pernah ke Bali dan saya tanya "Bali itu negaranya apa hayo" dan mereka bingung menjawabnya. Jadi sekali lagi, Bali itu salah satu pulau yang ada di Indonesia ya ^^
Kesempatan saya terbang ke Bali datang melalui dua sahabat, Rani & Sirhan. Mereka berdua memang jagoannya nyari yang murah-murah, dan salah satu hasilnya tiket PP Jakarta - Bali, Rp. 500.000,- dengan Air Asia. Meski berangkatnya baru 6 bulan kemudian, tapi tak mengapa. Yang penting murah :p. Rani kemudian mengajak suami dan anaknya yang masih berumur 4 tahun. Jadilah kita akan travelling ber-5. Untuk penginapan dapat rekomendasi dari suami Rani, di wisma PLN, nggak jauh dari Kuta.
Hari keberangkatan tiba. Minggu pagi sekitar pukul 11.00 (wooo...masih pagi yaaaaa ^^), saya dan Sirhan sudah duduk manis di Damri dari Lebak Bulus. Penerbangan dari terminal 3 Bandara Soekarno Hatta dijadwalkan pukul 14.00. Meski niatnya mau liburan, tapi mata terasa berat dan kepala pusing. Gara-garanya malam sebelumya habis begadang menuntaskan drama korea 15 episode :p. Alhasil, selama perjalanan ke bandara, Sirhan sibuk ngoceh sendirian. Sementara saya sudah terlelap ke alam mimpi.
Perjalanan dari Soekarno - Hatta ke Ngurah Rai seharusnya biasa saja, layaknya penerbangan pada umumnya. Namun, yang membuat kita jadi heboh karena ternyata kita satu pesawat dengan Indah Kalalo. Bagi yang belum tau Indah Kalalo, beliau adalah model cantik yang menikah sama bule. Cantik banget. Buktinya, Sirhan sama suaminya Rani sampai salting-salting selama perjalanan, kebetulan si model duduk satu baris sama kita. Padahal mah si Indah nya cuek bebek aja tuh tutup mata lalu tidur wkwkwkwk....
Sore-sore, saat langit di pantai Kuta mulai terlihat pudar, kita mendarat di Bali. O ya, waktu itu sempat khawatir dengan landasan di Ngurah Rai, yang ternyata pendek. Kerasa lho saat mendarat kemiringannya tajam banget.
Dari bandara menuju penginapan, kita putuskan menggunakan taksi. Semula berharap taksinya pakai argo. Tapi ternyata enggak. Akhirnya tawar-menawarlah kita, dan sepakat di angka 45 ribu. Semula saya pikir cukup murah, hanya 45 ribu rupiah. Tapi ternyata , jarak penginapan dengan bandara itu hanya 10 menit perjalanan sodara-sodara L0L...
Oh ya, di seputar bandara juga banyak banget taksi gelap alias mobil-mobil pribadi yang ditawarkan untuk mengantarkan penumpang ke tujuan. Tapi tetap saja, jangan lupa di tawar ya ;)
Sampai di penginapan (yang ternyata enggak recomended), kita istirahat sebentar. Rani bahkan sempat ngajakin anaknya bobok sore. Tapi yang namanya anak-anak mah ya, mau secapek apapun tapi kalau lagi ditempat baru, mana mau dia tidur. Akhirnya emaknya doang yang goler-goleran, anaknya tetap aja lari-larian hihihiii....
Soal penginapan yang nggak recomended:
- Tidak terawat, berdebu, kunci pintunya saja pake gembok.
- AC nggak dingin
- Kamar mandi bersih tapi seram
- Untuk harga, lumayan miring. Untuk kamar luas dengan 2 double bed, per malamnya Rp. 200 ribu.
Beberapa saat sebelum matahari terbenam, kita langsung melipir ke destinasi yang pertama: Pantai Kuta. Cusss...... naik motor aja cukup 10 menit.
Soal transportasi selama di Bali, biasanya wisatwan bisa menyewa mobil atau motor. Jangan mengharapkan naik angkutan umum. Untuk menyewaan mobil atau motor, biasanya di setiap penginapan ada oknum-oknum yang suka menawari. Harga sewa 1 mobil perhari Rp. 200 ribu (diluar bensin dan sopir), sementara untuk motor cukup Rp. 50 ribu saja. Jaminannya hanya KTP booo....
Kesan pertama saya sesampai di Kuta adalah: jorok, jauh dari bayangan. Selain dipadati pengunjung, banyak pedagang mondar mandir, banyak sampah bertebaran. Pasirnya juga sudah kecampur dengan sampah kecil-kecil, Nggak enak buat diinjak :(
Saya dan Sirhan akhirnya cuma duduk-duduk aja di pasir, sementara Rani dan keluarga kecilnya sempat main ombak. Beberapa pedagang lalu lalang menawarkan dagangannya, ada yang terkesan memaksa. Saya sebenarnya terganggu dengan pedagang-pedagang ini. Jarang-jarang kan bisa bengong disaksiin sama matahari tenggelam, eh malah dikerubutin pedagang. Tapi akhirnya Sirhan luluh juga dengan tukang tato temporary. 30 ribu melayang ke kantong si tukang tato dengan imbalan gambar ikan terbang di pundak kanannya. Oalah masss...jauh-jauh ke Bali tapi malah nempelin logo Indosiar wkwkwkkw.....
Capek nongkrongin Pantai, kita beralih ke pusat belanja di sekitar Kuta. Sasarannya adalah KFC. yak, hari sudah malam dan kita harus isi perut dulu, biar bisa bobo nyenyak. Nggak apa-apa deh makannya fast food, secara niat kesini memang nggak fokus buat kulineran. Kita cari makanan aman saja (baca: halal).
Senin pagi. Pukul 5 subuh ternyata sudah terang banget disini. Saat yang di Jakarta sedang berjibaku dengan waktu berangkat ke kantor, saya malah masih leyeh-leyeh nungguin sarapan. Bahagia deh :p
Okay, ini sudah masuk hari ke dua, tujuan kita hari ini adalah wisata pantai di daerah Uluwatu. ada banyak pantai yang bisa disambangi dalam satu kali perjalanan, yaitu Blue Point, Dreamland dan Pantai Padang-Padang. Lokasi ini dapat ditempuh sekitar 30 - 45 menit saja. O ya, dalam perjalanan ke Uluwatu, kita melewati Universitas Udayana dan Garuda Wisnu Kencana (GWK), tapi nggak sempat mampir. Di salah satu persimpangan, kita sempat mampir di Carrefour dan beli 2 botol Nivea Sunblock. Yak, Bali panas banget, lebih panas dari Jakarta. Bahkan matahari di kota Padang nggak semenyengat ini. Bhh...
Blue Point Beach
Ini pemberhentian pertama, Blue Point Beach. Dari parkiran motor, kita harus melewati gang-gang kecil yang berkelok-kelok dan dipenuhi rumah/ penginapan, kios-kios souvenir dan toko-toko yang menjual peralatan selancar. Yup, pantai ini memang khusus untuk pencinta selancar karena ombaknya yang okeh banget. Jadi nggak heran, saat menyusuri jalan kecil itu banyak berpapasan dengan bule-bule yang menggendong papan selancar. Ada juga babang-babang bule lagi berjemur ( duduk-duduk sambil ngobrol dengan penduduk lokal dan bertelanjang dada..uhuyy....), bahkan bule lagi jemur pakaian. Wkwkkwkw....bule juga manusia, jangan heran liat mereka jemur baju kaos :p
Di pantai ini, saya nggak mencicipi main air. Karena ombak sedang tinggi dan suaranya menghempas karang menciutkan nyali. Akhirnya kita hanya memandangi birunya laut berpadu langit dari kejauhan.
Pantai Padang-Padang
Dari Blue Point, perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Padang-Padang. Sebenarnya sebelum Padang-Padang ada Pantai Dreamland, tapi kita memilih lanjut dulu ke Padang-Padang.
Di pantai berpasir putih ini tahun 2010 yang lalu dilakukan shooting Film Eat Pray Love yang dibintangi Julia Robert. Udah nonton? saya udah, tapi yang bajakan :p
Kabarnya, selama shooting pantai ini ditutup untuk umum. Sejak itulah pantai ini mulai terkenal dan mulai dikunjungi wisatawan lokal. Ingetm wisatawan lokal lho yaaa....kalo turis asing mah dari kapan tau udah mondar mandir disini. Hmm... orang asing selalu selangkah lebih maju dibanding kita, dan sakitnya lagi itu terjadi di rumah sendiri. Ckckck...*sedih
Dari parkir kendaraan menuju pantai, kita harus menuruni ceruk seperti goa yang sebenarnya terdiri dari susunan batu karang. Tak perlu takut tergelincir, karena goa tersebut sudah di tata dengan anak tangga sehingga mudah untuk dilalui.
Berbeda dengan Blue Point yang terkesan ganas (entah kenapa begitu sampai di Blue Point, saya merasa laut sedang marah), di Padang-Padang sangat terasa tenang. Meski setiap detik ratusan bahkan ribuan gelombang ombak pecah di bibir pantai, tapi suasananya terkesan syahdu. Saya suka pantai ini.
Selain hamparan pasir putih yang halus, terdapat beberapa batu karang yang dibawahnya kita bisa duduk-duduk sembari bersembunyi dari si matahari yang terik. Beberapa kursi dilengkapi payung tertata rapi. ada satu penjual baju pantai, tapi tidak merusak indahnya lokasi itu.
Disini, saya akhirnya melepas celana panjang, menyisakan hot pants dan berlari menyongsong ombak. Yihaaa.....asoyy....padahal lagi terik-teriknya. Item-item deh, di Jakarta banyak spa buat luluran. Kalo sorga yang begini jarang-jarang ketemu kan.
Oh ya, ada satu insiden yang menimpa seorang turis cantik asal spanyol yang berenang tak jaub dari tempat kita bermain-main. Entah kenapa dengkulnya sobek, katanya tersnagkut batu karang saat berenang. Saya yang melihat darah mengucur banyak banget langsung mules, akhirnya memilih mondar-mandir cari tim rescue. Ada pos rescue yang saya lihat begitu sampai di pantai ini, tapi nggak ada petugasnya. Akhirnya Sirhan inisiatif membersihkan luka itu dengan air mineral dan membalutnya dengan saputangan. Ah... elu mas, modus aja wkwkwkwk.....
Pantai Dreamland
Akhirnya sepulang dari Padang-Padang, sempat juga mampir ke Pantai Dreamland. Hanya saja kita nggak sampai menginjak pasir pantainya lantaran rame banget. Jadi kita hanya keliling-keliling di sekitar Dreamland. Oh ya, gosipnya Dreamland ini punyanya keluarga cendana. Hooooo.....
Sore menjelang, belum makan siang dan kulit sudah gosong. Kita kembali ke ke Denpasar. Dijalan sempat ketemu Circle K dan beli cappucino dingin. Hmm.... suegerrr...
Saya merasa, selama di bali waktu terang lebih lama dari waktu gelap. Bener nggak sih? apa cuma perasaan saya saja yang sedang asyik dengan liburan? heheheh....
Sepulang dari wisata pantai, sekitar jam 5 an, suasana masih cerah ceria banget. Kalau di Jakarta, pukul 5 sore kelihatannya sudah muram, pikirannya udah perjalanan pulang ke rumah aja tuh :p
Sore-sore, setelah kita semua bersih-bersih, bahkan rangga (anaknya Rani) sudah terbangun dari tidur sorenya, kita berencana menyusuri Kuta lalu lanjut ke Legian dengan berjalan kaki. Di dua kawasan ini, pemandangannya tak jauh-jauh dari bule dan shopping area. Saya tak tertarik untuk berbelanja karena nggak ada yang unik disini, sama saja dengan produk-produk di mal. Aura hedon terasa banget di sini. Jika masih disini lebih malam lagi, kita bisa menyaksikan orang-orang berjalan sempoyongan :)
Oh ya, catatan saya, Kuta & Legian bukan rekomendasi tempat wisata buat anak-anak. Not recomended!!
Setelah bosan di Legian, Rani & kel ngajak kita bergeser ke krisna, toko yang menjual aneka oleh-oleh. Saya dan Sirhan hayuk saja, meski tak terlalu ingin berbelanja.
Pusat oleh-oleh khas Bali Krisna ini sudah terkenal dikalangan wisatawan. Lokasinya di jalan raya Tuban, tepat di sebelah patung kuda yang menjadi iconnya Bali. Harga nya cukup murah dan barang-barangnya juga lengkao dan unik. Meski ramai pengunjung, tapi tak terlihat sesak karena areanya juga luas.
Jangan kaget ya, dipintu masuk toko ada sejumlah petugas yang akan menempelkan stiker di baju pengunjung ^^
Sudah bisa ditebak siapa yang berbelanja paling banyak disini, yak siapa lagi kalau bukan ratu shopping Rani & keluarga. Saya ngapain? mondar-mandir aja sambil ngeliatin lilin-lilin therapy. Selebihnya bingung hahahaha.... akhirnya cuma beli beberapa bungkus kacang bali, buat dicemilin sebelum tidur.
Selesai di krisna bukan berarti kembali ke penginapan. Masih ada tujuan berikutnya yaitu Joger. Wohaaa.....sesi belanjanya belum puas :p
Joger terletak di jalan raya Kuta, tak jauh dari Ngurah Rai. Bagi pencinta kaos dengan desai dan kata-kata yang lucu, inilah tempatnya. Dari segi harga, menurut saya cukup sesuai dengan kualitas barang. Saya hanya beli magnet kulkas seharga 15 ribu. Untuk review tempat pun saya nggak bisa cerita banyak, secara pas ke sini udah capek dan pengen bobok. Jadi lebih banyak duduk-duduk smabil nungguin Rani memilih-milih barang.
Selasa pagi. Sehabis subuh saya sudah nongkrong di pantai Kuta. Dengan beralaskan selembar kain Bali, saya berbaring menatap batas laut dengan langit yang mulai memunculkan pendar kemerahan. Sementara Sirhan asyik bercakap-cakap dengan petugas pantai yang sedang mengurusi papan-papan seluncur. Rani & kel, masih bobok nyenyak di penginapan :)
Ada satu tempat yang sangat ingin saya kunjungi, Ubud. Saya ingin kesana, untuk menyapa sawah dan sapaan penduduk yang hangat, menikmati tari dan lukisan yang meski sulit saya mengerti. Ingin sejenak hening dalam yoga. Ingin mengasingkan diri ke kediaman Ketut Liyer, yang jadi terkenal akibat filmnya tante Julia Robert itu. Ah... agak melankolis ya, tapi yaa itulah saya,..bukankah setiap manusia memiliki sisi melankolis?
Karena itulah, subuh-subuh saya sudah menyendiri di pantai. Karena saya tahu menuju Ubud bukanlah perkara gampang. Kali ini bukan perjalanan sendiri yang bisa saya tentukan tujuan kemana hendak pergi sesuka hati. Terlebih lagi, sejak awal rencana travelling ini di gagas, saya telah menyatakan menyerahkan sepenuhnya itienary kepada Rani karena saat itu sedang banyak pekerjaan. Dan sekarang penyesalan itu datang terlambat.
Saat lagi diamdiam merenung, WA dari Cen, si cici yang mengangkat saya jadi adiknya. Dia bilang dia sedang di Bali dan tanya saya ingin oleh-oleh apa. Hahaa.... jodoh banget. Setelah saya tanya-tanya dia ternyata menginap di Grand Inna, Kuta. What a universe!!! itu hotel yang saat itu berada di belakang saya!!!.
Sekejap saya langsung kirim foto selfi dengan latar belakangnya Grand Inna. dan beberapa menit kemudian dia muncul dihadapan saya. Ohh..I miss u sist..kita peluk-pelukan...kayak orang yang bertahun-tahun nggak ketemu. "Di jakarta belum tentu bisa ketemu kamu setahun sekali, malah ketemunya di Bali" ujarnya sambil ngakak.
Sayangnya, Cen hari itu balik ke Jakarta. Jadi kita nggak bisa lama-lama ber haha hihi. Dia harus packing. jadi nggak lama kemudian kita berpisah. Saya pulang bawa sendal hotel Grand Inna, dikasih Cen. "Karena kamu juga di Bali, jadi nggak perlu oleh-oleh khusus, nih sendal jepit aja, kan kamu sukanya sendal jepit" hihiiii....iyya kakaaakkk...
Akhirnya, hari itu saya dan Sirhan memisahkan diri dari Rani & kel. Kelihatannya Rangga capek, jadi Rani ingin istirahat saja di hotel. Padahal rencana semula kita hari itu mau ke Tana Lot. Akhirnya Sirhan berbaik hati mengantar saya ke Ubud, tempat yang saya idam-idamkan. Yeayy.....
Tapi....yang terjadi adalah.... kita nyasar. Padahal sudah bertanya lho rutenya, tapi tetap saja nggak ketemu. Hmm..mungkin ini yang dinamakan takdir kali ya. Meski sudah ada kesempatan, jika alam tidak menginkan saya ke Ubud hari itu, ya nggak kesampaian. Saya dan Sirhan malah terdampar di Pura .....
Rabu. The last day on Bali.
Ini hari terakhir. Pesawat akan membawa kami kemblai ke Jakarta pukul 17.30. Sisa hari ini akan dihabiskan untuk mengunjungi Tanah Lot , yang terletak di Tabanan. Dari Kuta, Tanah Lot berjarak sekitar 1 jam perjalanan dengan menggunakan motor. Namun jangan khawatir, dalam perjalanan menuju tempat ini, mata akan disuguhi pemandangan alam dan masyarakat khas bali: pura, orang yang sednag bersembahyang serta gadis-gadis berkebaya bali membawa persembahan di kepalanya. Bahkan, dalam perjalanan pulang saya sempat menyaksikan iring-iringan jenazah. Entah kenapa, saya tak merasakan suasana duka. Mungkin karena warna kuning dan merah yang mendominasi kerandanya yang terlihat mewah.
Pura Tanah Lot dibangun pada dua tempat berbeda, satu di atas bongkahan batu besar dab satu lagi di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing inilah yang menghubungkan pura dengan daratan dan bentuknya melengkung seperti jembatan.
Pura Tanah Lot ini merupakan tempat memuja dewa penjaga laut. Di bawah pura terdapat goa yang dihuni oleh ular laut. Konon kabarnya, ular ini adalah jelmaan selendang pendiri pura, yaitu seorang Brahmana dari Jawa yang mengembara ke Bali. Ular itu di utus untuk menjaga pura.
Di sekitar jalan masuk menuju Pura Tanah Lot ini, banyak penjual souvenir, tapi dengan harga yang di banderol cukup mahal.
Hari semakin siang, kami kembali ke penginapan untuk packing. Jangan sampai ketinggalan pesawat. Saat hendak check out, petugas penginapan yang untungnya ramah mengucapkan terimakasih dan mengingatkan agar jika ada kesempatan kembali datang ke Bali. "Iya Bli, suatu hari nanti saya kembali, karena masih ada yang belum tuntas," ujar saya sambil tersenyum. Sementara Sirhan hanya tertawa, sambil berbisik "Ubudnya belum ketemu ya Nil" :p
Catatan:
Di cerita ini saya tidak mengulas tentang kuliner karena memang saya lebih banyak memilih fastfood yang dirasa lebih aman untuk muslim. Meski demikian, bukan berarti di Bali susah menemukan kuliner halal ya, banyak juga tersedia resto dengan label halal :)








Social Media
Search