Ngobrolin Demo Dengan Anak 12 tahun
Ada satu kebiasaan kami yang hanya terjadi di akhir pekan atau hari libur - sarapan pagi bersama di meja makan, ataupun di meja makan abang ketupat sayur. Jangan ditanya lagi sebabnya, salahkan Gubernur Jawa Barat yang bikin aturan anak sekolah masuk jam 6.30 WIB :(
Seminggu terakhir, sejak Alif mulai libur, saya akhirnya bisa menikmati kemewahan yang jarang terjadi ini: bisa duduk bersama di meja makan menikmati sarapan pagi yang kesiangan. Sebabnya Alif minta nasi goreng, sementara daun bawang ternyata habis. Jadilah tadi perlu ke warung sayur dulu sebelum beraksi di dapur.
Pukul delapan lewat, kami bertiga: saya, Alif dan suami akhirnya bisa duduk menghadap piring, mulai menyendok nasi goreng dengan telur mata sapi.
"Mama hari ini nggak kerja?" Alif tiba-tiba bertanya. Mungkin karena dia lihat saya masih pakai kaos dan celana pendek, sementara matahari sudah meninggi.
"Kerja," jawab saya pendek. "Kenapa memang? mama kerja di rumah, mau cemilan apa?" saya pikir Alif bertanya karena ada cemilan yang direquest untuk hari ini.
"Ohh..mama kerja di rumah karena ada demo?" dia bertanya lagi. Walaupun dengan nada bertanya, tapi kalimatnya lebih seperti pernyataan.
Sedetik saya terdiam. Pertanyaannya diluar ekspektasi saya. Suami yang tadinya sibuk mengunyah langsung berhenti dan menaruh sendoknya.
"Alif tau hari ini ada demo?" tanya suami.
"Iya, hari ini 12 Juni ada demo," ujarnya lagi. Ada nada sedikit bangga.
Betul, inilah anak kecil. Sekecil apapun informasi yang dia sampaikan karena ia tahu, itu adalah sebuah kebanggaan. Dan kita perlu mengapresiasinya.
"Wahh...Alif tau apa itu demo?" saya mulai menggali.
"Hmm... karena dolar?" ujarnya ragu.
"Iya dolar kenapa memang?" saya melanjutkan. Saya sempat menduga ia akan menjawab dengan kalimat yang belakangan sedang trend 'karena orang desa nggak pakai dolar'.
"Karena dolar 18 ribu, trus BBM jadi naik, lebih mahal," ujarnya lebih yakin. Alif seperti kembali menemukan kepercayaan dirinya.
Setelahnya, obrolan kami berlanjut membicarakan situasi hari ini, tentang 12 Juni, tentang rencana aksi mahasiswa dan yang lebih penting adalah tentang sebab akibat jika dolar tidak turun ke 14 ribu rupiah.
Saya bukan yang paham ekonomi, urusan politik juga bukan interest saya. Tapi tiba-tiba topik yang bersinggungan dengan ekonomi dan politik hadir ke meja makan dan dibuka oleh anak berusia 12 tahun, saya mendadak harus paham agar tidak membuat logika anak-anak ini menjadi keliru.
Jujur, sejak situasi negara ini mulai tak terkendali, sedikit banyak saya mengikuti update harian melalui thread ataupun twitter. Cukup tau apa yang sedang terjadi saja, tapi ingin menggali - terutama komedi para pejabat. Misalnya 10 + 6 = 17. Muak g sih?
Problemnya, manusia se-apatis saya bersuamikan laki-laki yang interestnya terhadap politik dan negara lebih tinggi dibanding promo tiket pesawat. Jadilah setiap malam jelang tidur, 'pillow talk' kami adalah 'omon-omon terbaru hari ini'. Sungguh sebuah cara yang sangat praktis membuat genre 'nightmare'. Teror pocong Depok juga kalah horor kalau dihadepin sama dapur MBG yang udah bikin ribuan siswa keracunan. Ckckck...
Tapi tadi pagi, menyadari saya mulai lirik-lirik minta pertolongan, si bapak suami itu malah senyum lebar, seolah bilang "makanya jangan ngeluh mulu diajakin ngobrol politik". Ck...
Pak Suami mulai bercerita. Alif mendengarkan sambil sesekali membeo "O..o..". Pada bagian yang penjelasan papanya dirasa terlalu rumit, dia melirik saya atau mencoba menafsirkan sendiri dengan bahasanya. "jadi kalau banyak korupsi, orang Indonesia bisa jadi miskin?" ujarnya. Suapan nasi goreng sudah lama terhenti, nasinya belum habis setengah piring. Entah ia terpesona dengan cerita bapaknya atau mendadak kenyang begitu menyadari beratnya jadi WNI 😅
Sungguh, ini topik yang tidak mudah untuk dibahas setelah topik tentang "mau adik bayi" yang dia minta beberapa waktu lalu. Tapi apapun itu, kami selalu berusaha memberikan jawaban atas pertanyaannya. Jika orang dewasa punya ego yang harus disuapi, maka anak kecil punya rasa ingin tahu yang harus dipenuhi. Dan saya percaya, untuk kedua hal ini, anak kecil dan orang dewasa sama: harus sama-sama terpenuhi. Dan cara terbaik untuk memuaskannya adalah melalui lingkungan terdekat: keluarga.
Ngobrol dengan anak 12 tahun itu adalah menjadikan topik yang mudah menjadi rumit. Kita nggak pernah tahu efek satu kalimat saja yang keliru, bisa-bisa bikin dia salah arah. Karena itu, hal-hal yang selama ini saya selalu jaga adalah menghindari memberikan jawaban yang terkesan seperti dia tidak berhak bertanya. Misalnya seperti "Alif masih kecil, nanti kalau udah gede juga akan tahu" .
Bisa aja kan waktu awal dia bahas soal demo, kita bilang "Alif masih kecil, belum ngerti demo. Nanti kalau udah gede juga akan ngerti,". Gampang, nasi goreng dapat kembali di suap tanpa gangguan. Saya g perlu mikir dan menerjemahkan penjelasan suami yang rumit itu. Alif mungki berhenti bertanya, tapi siapa yang tahu kalau otaknya juga berhenti berfikir atau malah berimajinasi semakin liar tentang demo?
"Kalau demo berhasil nanti Indonesia jadi kaya lagi?" pertanyaannya berlanjut setelah si pappa bercerita tentang investor yang mau berbisnis di Indonesia kalau ekonomi dan politik Indonesia sudah stabil.
"Iya, kita bisa jadi negara kayak kayak Singapura atau Dubai. Kalau di Indonesia nggak ada korupsi, g ada pencuri, kita nggak perlu demo, orang kaya dari negara lain akan suka bikin bisnis di Indonesia, bikin kantor-kantor dan gedung tinggi, bikin sekolah jadi lebih banyak dan bagus-bagus.."
"Jadi ikut demo itu baik ya?" ujarnya bertanya, lagi-lagi lebih mirip pernyataan. Dan ini tricky, saya seperti paham kemana arahnya.
"Hmm.. ya, semua tergantung niatnya, harus baik juga. Tapi orang yang bisa ikut demo adalah orang yang sudah bisa menjaga dirinya sendiri," ujar saya. Dalam hati berharap ini akan jadi kalimat penutup yang memuaskan anak yang dalam 2 minggu akan genap berusia 12 tahun ini.
Sejenak ia kembali fokus pada nasi gorengnya. Saya mendengar ia berkata "oke" diantara gigi yang mengunyah.
Bagi Alif dan anak-anak seangkatannya, 12 Juni mungkin aja jadi tanggal yang akan terus mereka ingat, sebagai perlawanan rakyat terhadap pemimpin dzalim. Ingatan yang sama seperti saya - dan angkatan milenial lainnya masih mengingat 13 Mei sebagai penanda titik balik sebuah rezim.

Komentar
Posting Komentar