Toraja, The Untold Story
Ada satu tempat yang sangat ingin saya kunjungi sejak kecil, yaitu Toraja di Sulawesi Selatan. Negeri di Awan orang-orang bilang. Saya menginginkannya sejak berusia 8 tahun. Saya pernah katakan ke satu teman, dan dia bilang itu sangat jauh dari kampung kami. Ya tentu saja sangat jauh, kampung kami di Sumatera, Toraja di Sulawesi. Bahkan teman lain bilang, Jakarta atau pulau Jawa masih masuk akal, karena banyak orang Minang merantau ke pulau Jawa. Tapi Sulawesi, adalah pulau yang rasanya tak masuk akal bagi anak-anak kecil seperti kami. "Ndak ado urang awak di situ/ tidak ada orang Minang disitu," begitulah sederhanya isi pikiran anak kecil - sebatas ada/ tidak ada saudara kita.
Pembicaraan masa kecil itu berakhir begitu saja. Tapi ternyata tidak dengan keinginan yang tetap menempati ruang kecil di hipokampus, menunggu waktu yang tepat untuk ia kembali bangkit kepermukaan.
Dan benar saja, Oktober 2019, pukul 06.30 WITA, saya menginjakkan kaki di Tana Toraja, disambut kabut yang pelan-pelan naik tapi masih menyisakan dingin menusuk tulang. Saya menghirup udara dalam, terasa sedikit perih di hidung sambil meregangkan badan yang lumayan pegal akibat duduk lebih kurang 8 jam perjalanan. Baru helaan nafas ke dua, terdengar klakson lirih dari belakang.
"Mari kakak, saya hantar ke tempat halal , bisa sarapan pagi dan bersih-bersih," ia menyapa dari atas becak motor. Saya melirik Andini, teman seperjalanan - yang dikemudian hari kami tidak berhenti berjalan :p . Tak banyak kata, Dini cuma mengangguk tanda setuju, lalu kami berdua naik ke atas bentor sambil memangku ransel masing-masing.
Oh ya, sebagaimana yang kita tahu, mayoritas masyarakat Toraja adalah non muslim dan masih mempertahankan kepercayaan terhadap nenek moyang, atau mereka sebut Aluk Todolo. Jadi pada umumnya, makanan di sini mengandung babi ataupun zat lainnya yang diharamkan bagi muslim.
Jadi sudah biasa bagi warga lokal, setiap pagi menunggu bis-bis malam yang datang dari Makassar yang membawa para pelancong. Selain karena insting mengenali wajah-wajah pencari hidangan halal diantara para bule yang turun dari bis, juga karena saya datang bersama Dini yang mengenakan jilbab, sebuah privilige untuk langsung dikenali sebagai muslim.
Singkat kata, kami dibawa ke satu restorant sederhana yang menyajikan hidangan ayam. Pemilik restaurant, ibu paruh baya mengenakan gamis menyambut dengan ramah. Sepagi itu, ia sudah cantik, berdandan lengkap dengna gincu merah, membuat kami yang masih bau iler ini sedikit minder. "Masuk-masuk, darimana ini?" ia menyapa.
"Dari Jakarta bu Haji," dibantu jawab sama si abang becak yang tadi mengantar. Ia memarkir becaknya di halaman resto yang tidak terlalu luas. Saya menghampiri untuk membayar ongkos. "Kakak mau keliling-keliling Toraja? saya bisa hantar, naik motor. Bisa sampai negeri di awan," ia menawarkan.
"Tapi saya berdua, berarti dua motor?" tanya saya.
'Iya, ada. saya panggil kawan satu lagi. Bisa diantar kemana saja," ujarnya. "Kakak sarapan dan bersih-bersih saja dulu, nanti saya datang lagi," ujarnya. Seperti tersihir dengan kalimatnya yang percaya diri, saya setuju saja. "Oke," ujar saya akhirnya. Saya lalu masuk menyusul Dini dan si tukang becak pergi memanggil ntemannya. Tanpa kami sadari, itu adalah awal sebuah kesalahan besar.
Lolai To Tombi - Negeri di Atas Awan
![]() |
| Lolai To Tombi. Sumber: Detik.com |
Seperti pelancong pada umumnya yang datang ke Toraja, pasti tidak boleh melewatkan perkampungan Lolai di Kec. Kepala Pitu, Toraja Utara. Apa yang menarik dari sini? tentu saja bentang alamnya. Berada di ketinggian 1.300 mdpl, kita akan melihat awan dari atas, memandangi langit tanpa berselimut awan. Saya tak puya kalimat untuk menggambarkan keindahannya selain cuma bisa bilang "betah bengong di sini," . Dini hanya ketawa mendengarkan ide itu.
Semula, kami berencana menginap di sini, merasakan menginap di Tongkonan dan berbaur dengan warga lokal. Saya bahkan sudah membayangkan akan tidur ditemani aroma kayu rumah adat itu. Tapi, setelah di ajak melihat ke dalam salah satu Tongkonan yang disewakan untuk pelancong, nyali kami menciut. Bukan hanya soal harga per malam yang tidak ramah di kantong, sekitar 1 juta/ malam, namun karena keberadaan to mate atau jenazah yang masih disimpan di dalam Tongkonan, karena belum di makamkan oleh keluarga. Biasanya jenazah belum dimakamkan karena alasan keluarga belum punya cukup biaya untuk menggelar pemakaman yang di sana terkenal mahal. Selama berada masih di simpan di Tongkonan, mereka memperlakukan to mate ini selayaknya orang yang sedang sakit, tetap di rawat.
Saya dan Dini, bukan jenis orang yang punya nyali untuk experience seperti ini. Rencana gagal total, kita balik ke pusat kota Toraja di Makale dan mencari penginapan di sana.
Bertemu Tuhan di Tana Toraja
Beberapa waktu sebelum berangkat ke Toraja, saya melihat satu postingan Facebook dengan dengan caption 'bertemu Tuhan di Toraja,'. Tidak ada keterangan lain sehingga sepintas saya pikir itu tulisan sambil lalu. Tapi saat betulan saya sampai di Toraja, saya paham apa yang di maksud pengguna Facebook tersebut: Patung Yesus Memberkati setinggi 45 meter dan berdiri di atas bukit Buntu Burake setinggi 1.000 mdpl, menjadikannya salah satu patung Yesus tertinggi di dunia. Berada di titik tertinggi Tana Toraja dengan posisi tangan membentang seolah sedang memberkati Tana Toraja. Ya nggak heran kalau ada yang menuliskan kalimat cantik itu "Bertemu Tuhan di Tana Toraja,".
Kami mampir ke Buntu Burake ini setelah turun dari Lolai To Tombi. Motor hanya bisa sampai di prakiran dan selanjutnya saya dan Dini meniti anak tangga yang lumayan tinggi. Sesampai di atas, lagi-lagi kami disuguhi landscape Tana Toraja yang yang begitu memukau. Dari puncak Buntu Burake, hamparan perbukitan hijau terlihat berlapis-lapis hingga ke kejauhan, seolah membentuk dinding alam yang mengelilingi lembah-lembah Toraja. Di bawah sana tampak rumah-rumah penduduk yang tersebar di antara petak-petak sawah, sementara jalan berkelok membelah perkampungan dan perbukitan.
Udara pegunungan yang sejuk membuat kami betah berlama-lama menikmati pemandangan. Sesekali kabut tipis bergerak perlahan di antara bukit, menambah kesan dramatis pada panorama yang tersaji di depan mata. Dari ketinggian ini, Tana Toraja terlihat begitu luas dan tenang, menghadirkan perpaduan sempurna antara alam pegunungan, lembah hijau, dan kehidupan masyarakat yang berjalan damai di bawahnya.
Tak heran jika Buntu Burake menjadi salah satu titik terbaik untuk menikmati keindahan Toraja dari sudut pandang yang berbeda. Berdiri di dekat Patung Yesus Memberkati sambil memandang bentangan alam yang megah di hadapan kami menghadirkan perasaan kagum sekaligus syukur, seakan seluruh keindahan Toraja sedang dipamerkan dalam satu bingkai besar yang sulit dilupakan.
Londa: Menyusuri Jejak Kematian di Dalam Tebing
Setelah menikmati panorama dari Buntu Burake, perjalanan kami berlanjut ke Londa, salah satu situs pemakaman paling terkenal di Tana Toraja. Begitu tiba, suasananya langsung terasa berbeda. Tebing batu yang menjulang tinggi dipenuhi liang-liang kubur yang dipahat langsung ke dinding batu, sebuah tradisi pemakaman khas Toraja yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Di depan tebing berjajar patung-patung kayu yang disebut tau-tau, representasi orang yang telah meninggal. Dari kejauhan, patung-patung itu tampak seperti sedang mengawasi lembah di bawahnya. Saya memberanikan diri untuk masuk ke dalam goa pemakaman di temani warga lokal yang mengantar. Ada banyak peti-peti tua, tulang belulang, serta berbagai peninggalan yang menjadi saksi perjalanan panjang budaya Toraja dalam memaknai kematian.
Saya melihat dua kerangka berdampingan, laki-laki dan perempuan mengenakan pakaian pengantin. Semula saya pikir mereka suami istri, ternyata bukan. Mereka adalah pasangan kekasih yang akan menikah, tapi Tuhan lebih dulu mengambil mereka. Entah apa yang membuat mereka meninggal di waktu yang sama, saya tidak mendapat cerita lengkapnya. Yang pasti, secara berkala pakaian pengantinnya diganti dengan yang baru, meskipun tubuhnya tinggal tulang belulang.
Bagi masyarakat Toraja, kematian bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan menuju kehidupan berikutnya. Karena itulah, makam dan upacara kematian memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan sosial dan budaya mereka.
Kete Kesu: Kampung Adat yang Menjaga Tradisi
Dari Londa, kami melanjutkan perjalanan ke Kete Kesu, salah satu desa adat paling ikonik di Toraja. Saat memasuki kawasan ini, deretan rumah adat Tongkonan langsung mencuri perhatian. Atapnya yang melengkung menyerupai perahu berdiri megah menghadap lumbung-lumbung padi yang tersusun rapi di depannya.
Berjalan di antara rumah-rumah adat tersebut terasa seperti kembali ke masa lalu. Ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning menghiasi dinding Tongkonan, masing-masing memiliki makna dan filosofi tersendiri. Di beberapa sudut desa, pengrajin lokal masih membuat ukiran kayu dan cenderamata khas Toraja secara tradisional. Dari bentuk dan ukurannya, rumah-rumah adat ini sama. Tapi yang membedakan adalah jumlah tanduk kerbau yang terpasang di tiang di depan rumah. Deretan tanduk ini berasal dari kerbau yang disembelih saat upacara kematian (Rambu Solo'). Semakin banyak tanduk kerbau, semakin tinggi pula strata sosialnya.
Di sini saya sempat bertemu dan ngobrol dengan tetua yang tinggal di salah satu Tongkonan. Kami tidak bisa ngobrol banyak karena beliau tidak bicara bahasa Indonesia. Tapi yang saya bisa pastikan, dia orang yang ramah dan cantik. Ia terus bercerita tentang orang-orang yang datang ke sana dari banyak tempat di Indonesia dan juga orang asing. Ia juga mendoakan saya dan Dini selalu sehat dan menjalani hari muda dengan bahagia. Itu sedikit yang diterjamahkan oleh warlok yang mendampingi kami.
Puas seharian berkelana di negeri impian, sore jelang magrib kami kembali ke Makale, mencari penginapan. Kami akhirnya menjatuhkan pilihan di satu penginapan dengan harga 250 ribu rupiah/ malam. Jujur, bisa dibilang jauh dari nyaman. Tapi mengingat saya dan Dini hanya butuh untuk bermalam, karena besok kami ingin pindah ke kota lain.
Nah, inilah waktu kami mulai menyadari apa yang salah. Saat harus membayar layanan warga lokal yang mengantar dengan 2 motor, mereka menagih 1,5 juta untuk 2 motor. What???
Yes, ini kesalahan kami. Karena di awal lupa membuat kesepakatan. Jadi bisa dibilang endingnya saya dan Dini di palak. Tapi setelah negosiasi alot, akhirnya sepakat kami bayar 800 ribu untuk 2 motor. Ini pengalaman bagi saya, untuk selanjutnya harus deal di awal, apapun itu.
Sempat kesal, lebih tepatnya menyesali kebodohan saya. Seandainya dari awal pun kita sepakat dengan harga 800 ribu, setidaknya tidak merusak mood. Saya berusaha untuk biasa saja, tapi mungkin Dini menyadari. Ia mendorong saya ke kamar mandi sambil merayu nanti malam kita jalan kaki nyari kopi.
Hahahah... dia sudah tahu kelemahan saya, jalan kaki blusukan keluar masuk lingkungan sekitar. Saya pun sebenarnya tidak ingin bad mood berlama-lama, hanya saja karena juga sudah seharian jalan, dan kita sudah kehabisan energi, jadi kelihatan bete-nya :D
Seperti yang dijanjikan Dini, lepas magrib kami mulai menyusuri trotoar kota kecil yang ramai tapi tidak sibuk itu. Sepanjang jalan dipenuhi penginapan yang bersisian dengan kafe atau kedai kopi. Ya, Toraja adalah salah satu penghasil kopi premium terbaik di Indonesia, dikenala sebagai queen of coffee. Tanah dan vegetasi di Toraja menjadikannya kopi dengan rasa karamel yang pekat.
Kami mampir di salah satu kedai kopi, dan memesan dua cangkir kopi tubruk. Ini bagian menyenangkan dari sebuah perjalanan, saat di penghujung hari kita mengumpulkan kembali rasa-rasa menyenangkan, hal-hal menarik yang ditemui ataupun percakapan random dengan warga lokal setempat, sementara ponsel bisa disimpan di dalam tas. Tanpa notifikasi WA/ Instagram, melainkan hanya sesapan kopi yang ditimpali dengan cerita-cerita seru hari itu, di tempat yang ramai tapi tidak berisik.
Selamat beristirahat, kita ketemu di cerita lainnya ...
---
Draf tulisan ini adalah salah satu dari belasan artikel yang lama mengendap di admin blog. Satu persatu, akan di tulis ulang/ penyesuaian kalimat tanpa merubah artikel aslinya, termasuk beberapa foto akan menggunakan foto dari situs berita terbaru terutama untuk foto landscapre, mengingat dokumentasi saya tidak terlalu bagus.

Komentar
Posting Komentar