Review Kawasan : Sawangan
Lima belas tahun tinggal di Sawangan, Depok, membuat saya punya cukup banyak cerita tentang kawasan yang satu ini. Dari yang dulu sering disebut Depok coret, sampai sekarang menjelma menjadi kawasan hunian yang semakin dilirik, lengkap dengan cluster perumahan, pusat perbelanjaan, tempat nongkrong, hingga berbagai fasilitas gaya hidup.
Jujur, saya sendiri kadang suka takjub melihat perkembangannya. Rasanya baru kemarin Sawangan masih identik dengan jalanan yang tidak terlalu ramai, perumahan yang belum sebanyak sekarang, dan anggapan bahwa tinggal di sini berarti siap-siap jauh dari mana-mana.
Sekarang? Coba lihat sendiri.
![]() |
| Bukan Tahura Bandung, Ini Shila Sawangan |
Masih ingat betul ketika pertama kali pindah ke Sawangan, tepatnya di kawasan Pengasinan, sekitar awal 2010-an. Waktu itu, setiap kali menyebut tempat tinggal, ada saja komentar yang muncul. Sawangan? Jauh banget! Tempat jin buang anak kan itu! Dan sejujurnya, jaraaaangg banget ada teman yang dari Jakarta main ke rumah wkwkkw...saking jauhnya :p
Rasanya, Sawangan punya reputasi sebagai kawasan yang berada di antah-berantah. Padahal, sebenarnya sejak dulu kawasan ini juga cukup ramai. Bukan daerah sepi yang kanan-kirinya cuma hutan atau kebun kosong. Hanya saja, posisinya yang berada di ujung Kota Depok, berbatasan dengan Kabupaten Bogor, membuat Sawangan seperti berada di pinggiran dari segala hal.
Istilah Depok coret pun melekat cukup lama.
Kawasan ini juga punya semacam stereotip tersendiri. Karena lokasinya jauh dari pusat keramaian dan harga tanahnya relatif terjangkau, konon Sawangan menjadi tempat yang cocok buat para pengusaha menyimpan “simpanan”. Hahaha! Entah benar atau sekadar mitos urban, yang jelas, cerita semacam ini ikut mewarnai reputasi Sawangan pada masa itu.
Namun, justru harga tanah dan biaya hunian yang relatif murah itulah yang mungkin menjadi salah satu daya tariknya. Bagi keluarga muda yang ingin punya rumah sendiri, Sawangan menawarkan kesempatan untuk memiliki hunian dengan harga yang ketika itu masih masuk akal. Ok, ini salah satu alasan akhirnya saya berani ambil KPR disini. Iya harga properti 15 tahun lalu masih murah, tapi waktu itu daya beli pun masih rendah wkwkkw...
Dan siapa sangka, lima belas tahun kemudian, kawasan yang dulu dianggap terlalu jauh ini justru berkembang begitu pesat. Dampaknya? alhamdulillah, harga rumah KPR nan mungil ini pun ikut naik berkali-kali lipat. Sejauh ini nggak ada nitana buat di jual sih, masih betah di sini. Cuma mengetahui kenaikan harganya yaa jelas happy juga dong.
Ketika Sawangan mulai naik kelas
![]() |
| Tol Sawangan. Gara-gara tol ini nama Babah Alun jadi dikenal wkwkkw... |
Perubahan Sawangan semakin terasa ketika akses jalan tol semakin mudah dijangkau. Kehadiran akses tol di sekitar kawasan ini ikut mengubah cara orang memandang Sawangan sebagai tempat tinggal.
Perlahan, cluster-cluster perumahan mulai bermunculan. Pilihannya pun semakin beragam, dari perumahan yang menyasar keluarga dengan anggaran terbatas sampai hunian premium dengan harga yang, kalau kata anak Gen Z, sudah nggak ngotak.
Nama-nama kawasan seperti Shila at Sawangan dan Southcity di kawasan South Sawangan ikut menambah warna baru bagi perkembangan hunian di wilayah ini. Sawangan tidak lagi hanya dipandang sebagai alternatif bagi orang yang belum mampu membeli rumah di pusat kota, tetapi juga mulai menarik perhatian mereka yang mencari lingkungan hunian dengan konsep dan fasilitas yang lebih modern.
Perubahan ini tentu membawa efek berantai. Ketika jumlah penghuni bertambah, kebutuhan akan fasilitas juga meningkat. Tempat makan, kafe, pusat belanja, hingga berbagai merek ternama mulai lebih mudah ditemukan.
Buat saya yang sudah tinggal di sini selama 15 tahun, perubahan tersebut terasa sekali. Untuk urusan belanja atau sekadar mencari hiburan di akhir pekan, pilihan sekarang jauh lebih banyak dibandingkan ketika pertama kali pindah. Dulu, selain Indomaret dan Alfamart, cuma ada Giant di Bojongsari untuk groceries. Sekarang Giant udah g ada, ganti HyFresh. Tapi juga sudah ada Superindo.
Menariknya, meski store-store modern menjamur, tapi tidak lantas mematikan grosiran warlok seperti Bhakti Karya ataupun warung madura. Malah sejumlah Warung Madura yang buka 24 jam ikut merubah penampilannya, dari yang dulu mungkin asal terlihat penuh barang, sekarang displaynya terlihat lebih rapi.
Sawangan perlahan tumbuh menjadi kawasan yang menawarkan lebih dari sekadar tempat untuk pulang dan tidur.
Salah satu nilai plus Sawangan: akses ke mana-mana semakin mudah
Kalau ditanya apa yang paling saya sukai dari tinggal di Sawangan, salah satunya adalah aksesibilitasnya yang semakin baik.
Tentu, definisi dekat bagi setiap orang berbeda-beda. Namun, dengan adanya pilihan akses jalan tol di sekitar kawasan, perjalanan menuju sejumlah wilayah menjadi lebih fleksibel.
Buat saya, salah satu keuntungan tinggal di Sawangan adalah akses menuju Bandara Soekarno-Hatta. Kalau kondisi lalu lintas mendukung, perjalanan melalui akses tol di sekitar Pamulang bisa terasa cukup praktis. Ini jelas menjadi nilai tambah bagi orang yang pekerjaannya menuntut mobilitas tinggi atau memang suka bepergian seperti saya.
Sebagai pencinta perjalanan, urusan akses ke bandara bukan perkara sepele. Apalagi kalau harus mengejar penerbangan pagi atau pulang malam setelah perjalanan panjang. Rasanya menyenangkan ketika perjalanan menuju bandara tidak harus dimulai dengan perjuangan menembus separuh Jakarta.
Tentu, waktu tempuh tetap bergantung pada titik keberangkatan, rute, dan kondisi lalu lintas. Jadi, jangan langsung membayangkan setiap perjalanan ke bandara pasti bebas drama, ya!
Oh ya, satu lagi yang menyenagkan. Sekarang aa dong Damri dari Soekarno - Hatta menuju Sawangan. Woww... beneran memangkas biaya perjalanan dengan tarif hanya 90 ribu rupiah. Bandingkan jika dengan taksi, tarifnya bisa 250 ribu. Tapi lagi-lagi ya, kalau sedang buru-buru, jangan pilih transportasi umum ini.
Meski begitu, dibandingkan dengan masa-masa awal saya tinggal di sini, pilihan akses yang tersedia sekarang jelas menjadi keuntungan tersendiri.
Sawangan nyaman untuk tempat tinggal?
Bagi saya, jawabannya: iya, dengan beberapa catatan.
Sawangan punya daya tarik sebagai kawasan hunian, terutama bagi keluarga yang menginginkan lingkungan tempat tinggal dengan pilihan perumahan beragam. Kita bisa menemukan kawasan yang relatif sederhana hingga cluster dengan fasilitas dan konsep yang lebih premium.
Pilihan tempat makan, belanja, dan hiburan juga semakin berkembang. Jadi, kebutuhan sehari-hari tidak selalu mengharuskan kita pergi jauh ke pusat Kota Depok atau wilayah lain.
Namun, kenyamanan tinggal di Sawangan juga sangat bergantung pada lokasi rumah. Sawangan bukan kawasan kecil dengan karakter yang seragam. Kondisi jalan, akses ke fasilitas umum, kedekatan dengan pusat aktivitas, hingga potensi kemacetan bisa berbeda jauh antara satu titik dan titik lainnya.
Karena itu, menurut saya, memilih rumah di Sawangan tidak cukup hanya melihat bangunan dan harga. Perlu juga memperhatikan akses keluar-masuk kawasan, kondisi jalan pada jam sibuk, serta fasilitas yang benar-benar dibutuhkan keluarga.
Sebab, rumah bagus dengan harga menarik bisa saja kehilangan daya tariknya kalau setiap hari kita harus menghabiskan terlalu banyak waktu di jalan.
Minusnya tinggal di Sawangan: susah nyari sekolah
Di balik perkembangannya yang pesat, Sawangan masih punya beberapa pekerjaan rumah. Salah satu yang cukup terasa bagi keluarga dengan anak usia sekolah adalah pilihan sekolah, terutama untuk jenjang SMP dan SMA.
Bukan berarti tidak ada sekolah di Sawangan. Ada. Namun, ketika mencari sekolah dengan kriteria tertentu, pilihan yang sesuai bisa terasa terbatas.
Pada akhirnya, sebagian orang tua mungkin perlu mempertimbangkan sekolah di wilayah Depok yang lebih tengah atau ke arah Pamulang, Tangerang Selatan. Saya sendiri akhirnya memilih arah Depok untuk sekolah anak, walaupun kita jadi harus alokasi waktu untuk antar jemput.
Bagi keluarga yang memiliki anak lebih dari satu, persoalan ini bisa menjadi pertimbangan penting. Jarak rumah ke sekolah, waktu tempuh, biaya transportasi, dan pengaturan aktivitas harian semuanya perlu dihitung.
Apalagi kalau kedua orang tua bekerja. Mengantar anak ke sekolah yang lokasinya cukup jauh bisa menjadi pekerjaan tambahan yang tidak sederhana.
Buat saya, perkembangan kawasan hunian idealnya juga diikuti oleh pertumbuhan fasilitas pendidikan yang berkualitas. Sebab, rumah bukan hanya soal tempat kita tinggal, tetapi juga tentang lingkungan tempat anak-anak bertumbuh.
Kalau Sawangan ingin terus berkembang sebagai kawasan hunian favorit, ketersediaan pilihan sekolah tentu menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian.
Jalanan Sawangan dan drama kemacetan
![]() |
| Definisi setiap saat cheos :p |
Ini dia salah satu hal yang mungkin paling sering dikeluhkan warga: kemacetan.
Seiring bertambahnya jumlah perumahan dan penghuni, aktivitas kendaraan di Sawangan juga semakin padat. Masalahnya, sejumlah jalan lingkungan dan akses keluar-masuk perumahan bertemu langsung dengan jalan utama.
Akibatnya, kendaraan yang hendak masuk atau keluar dari gang dan perumahan bisa menambah antrean di jalan raya. Pada jam-jam sibuk, pertemuan arus kendaraan semacam ini membuat perjalanan yang seharusnya sederhana menjadi lebih lama.
Belum lagi ketika ada kendaraan yang berhenti, aktivitas warga di tepi jalan, atau persimpangan yang belum cukup memadai untuk menampung volume lalu lintas.
Kabar baiknya, pelebaran jalan di sejumlah titik menjadi salah satu upaya yang diharapkan dapat membantu mengurangi persoalan ini. Namun, selama pekerjaan masih berlangsung, warga juga harus menyiapkan stok kesabaran ekstra.
Jalan yang sedang diperlebar tentu membawa harapan untuk perjalanan yang lebih lancar nantinya. Tetapi selama proses pengerjaan, penyempitan lajur, perubahan arus, dan aktivitas konstruksi justru bisa membuat perjalanan terasa lebih melelahkan.
Jadi, untuk sementara, kalau mau bepergian pada jam sibuk, saran saya sederhana: berangkat lebih awal dan jangan terlalu percaya diri dengan estimasi waktu dari aplikasi peta.
Kita tidak pernah tahu kejutan apa yang menunggu di persimpangan berikutnya.
Jadi, masih betah tinggal di Sawangan setelah 15 tahun?
Kalau melihat perkembangannya, saya merasa Sawangan sudah mengalami perubahan yang luar biasa. Kawasan yang dulu kerap dianggap terlalu jauh kini menjadi salah satu pilihan hunian yang semakin diperhitungkan.
Dari sisi perumahan, fasilitas belanja, tempat makan, hingga akses perjalanan, banyak hal yang terasa lebih baik dibandingkan lima belas tahun lalu.
Namun, pertumbuhan yang cepat juga membawa konsekuensi. Kemacetan, kebutuhan infrastruktur yang belum selalu sebanding dengan pertumbuhan penduduk, dan pilihan sekolah yang masih perlu diperhatikan menjadi tantangan tersendiri.
Bagi saya, 15 tahun ini adalah pengalaman menyaksikan sebuah kawasan bertumbuh. Saya melihat bagaimana tempat yang dulu dianggap berada di pinggiran perlahan berubah menjadi kawasan yang punya daya tariknya sendiri.
Apakah Sawangan sempurna? Tentu tidak.
Apakah saya masih bisa menikmati tinggal di sini? Sejauh ini, iya.
Pada akhirnya, memilih tempat tinggal bukan hanya soal gengsi alamat atau seberapa mahal harga rumah di suatu kawasan. Ada banyak hal yang ikut menentukan kenyamanan: akses, fasilitas, lingkungan, kebutuhan keluarga, dan tentu saja kemampuan kita beradaptasi dengan perubahan.
Sawangan punya kelebihan sekaligus kekurangan. Dan setelah 15 tahun menjadi warganya, saya bisa bilang bahwa kawasan ini sudah jauh berbeda dari Sawangan yang pertama kali saya kenal.
Dulu, orang mungkin bertanya, “Ngapain tinggal di Sawangan? Jauh banget!”
Sekarang, pertanyaannya mungkin berubah menjadi, “Rumah di Sawangan sekarang harganya berapa?”
Sebuah perubahan yang, kalau dipikir-pikir, cukup menarik untuk disaksikan langsung dari rumah sendiri.


